Nama lengkapnya adalah Muhammad Saleh
bin Umar As-Samarani, yang dikenal dengan sebutan Mbah Soleh Darat, hidup
sezaman dengan Syekh Nawawi Banten dan Syekh Kholil Bin Abdul Latif Bangkalan Madura,
lahir di Kedung Cemlung, Jepara pada tahun 1235 H./1820 M., dan wafat di
Semarang pada hari Jum’at 29 Ramadhan 1321 H. atau 18 Desember 1903 M. Ketiga
ulama yang berasal dari Jawa itu juga sezaman dan seperguruan di Mekah dengan
beberapa ulama dari Patani diantaranya adalah Syekh Muhammad Zain bin Mustafa
Al-Fathani (Lahir 1233 H./1817 M., wafat 1325 H./1908 M.). Mereka juga
seperguruan di Makkah dengan
Syekh Amrullah (Datuk Prof. Dr. Hamka) dari
Minangkabau, Sumatera Barat.
JEJAK PENDIDIKAN MBAH SALEH DARAT
1.Kiai Haji M. Syahid
Untuk pertama kalinya Kiai Shalih Darat menuntut ilmu dari Kiai M. Syahid, seorang ulama yang memiliki pesantren Waturoyo, Margoyoso Kajen, Pati. Pesantren tersebut hingga kini masih berdiri. Kiai M. Syahid adalah cucu Kiai Mutamakkin yang hidup semasa Paku Buwono II (1727-1749M). kepada Kiai M. Syahid ini, Kiai Shaleh Darat belajar beberapa kitab fiqih. Di antaranya adalah kiab Fath al-Qarib, Fath al-Mu’in, Minhaj al-Qawwim, Syarh al-Khatib, Fath al-Wahab dan lain-lain.
2. Kiai Raden Haji Muhammad Shaleh bin Asnawi, Kudus. Kepadanya Kiai Shaleh Darat belajar Tafsir al-Jalalain karya Imam Suyuti.
3. Kiai Ishak Damaran, Semarang.
Kepadanya Kiai Shaleh Darat belajar Nahwu dan Sharaf.
4. Kiai Abu Abdillah Muhammad bin Hadi Buquni, seorang Mufti di Semarang.
Kepadanya Kiai Shaleh Darat ilmu falak.
5. Kiai Ahmad Bafaqih Ba’alawi, Semarang.
Kepadanya Kiai Shaleh Darat belajar kitab Jauhar al-Tauhid karya Syekh Ibrahim al-Laqqani dan Minhaj al-Abidin karya imam Ghazali.
6. Syekh Abdul Ghani Bima, Semarang.
Kepadanya Kiai Shaleh Darat belajar kitab Masail al-Sittin karya Abu Abbas Ahmad al-Mishri. Yaitu sebuah kiab yang beisi ajaran-ajaran dasar Islam yang sangat populer di Jawa pada abad ke-19 M.
7. Mbah Ahmad ( Muhammad ) Alim Bulus Gebang Purworejo.
Kepadanya Kiai Shaleh Darat mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan tasawuf dan tafsir al-Qur’an. Oleh Mbah Ahmad ( Muhammad ) Alim ini, Kiai Shaleh Darat diperbantukan kepada Zain al-Alim ( putra Mbah Ahmad Alim ), untuk mengasuh sebuah pesantren di Dukuh Salatiyang, Desa Maron, Kecamatan Loano, Purworejo.
Melihat keragaman kitab-kitab yang diperoleh oleh Kiai Shaleh Darat dari beberapa gurunya, menunjukkan betapa kemampuan dan keahlian Kiai Shaleh Darat di bidang ilmu agama.
Untuk pertama kalinya Kiai Shalih Darat menuntut ilmu dari Kiai M. Syahid, seorang ulama yang memiliki pesantren Waturoyo, Margoyoso Kajen, Pati. Pesantren tersebut hingga kini masih berdiri. Kiai M. Syahid adalah cucu Kiai Mutamakkin yang hidup semasa Paku Buwono II (1727-1749M). kepada Kiai M. Syahid ini, Kiai Shaleh Darat belajar beberapa kitab fiqih. Di antaranya adalah kiab Fath al-Qarib, Fath al-Mu’in, Minhaj al-Qawwim, Syarh al-Khatib, Fath al-Wahab dan lain-lain.
2. Kiai Raden Haji Muhammad Shaleh bin Asnawi, Kudus. Kepadanya Kiai Shaleh Darat belajar Tafsir al-Jalalain karya Imam Suyuti.
3. Kiai Ishak Damaran, Semarang.
Kepadanya Kiai Shaleh Darat belajar Nahwu dan Sharaf.
4. Kiai Abu Abdillah Muhammad bin Hadi Buquni, seorang Mufti di Semarang.
Kepadanya Kiai Shaleh Darat ilmu falak.
5. Kiai Ahmad Bafaqih Ba’alawi, Semarang.
Kepadanya Kiai Shaleh Darat belajar kitab Jauhar al-Tauhid karya Syekh Ibrahim al-Laqqani dan Minhaj al-Abidin karya imam Ghazali.
6. Syekh Abdul Ghani Bima, Semarang.
Kepadanya Kiai Shaleh Darat belajar kitab Masail al-Sittin karya Abu Abbas Ahmad al-Mishri. Yaitu sebuah kiab yang beisi ajaran-ajaran dasar Islam yang sangat populer di Jawa pada abad ke-19 M.
7. Mbah Ahmad ( Muhammad ) Alim Bulus Gebang Purworejo.
Kepadanya Kiai Shaleh Darat mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan tasawuf dan tafsir al-Qur’an. Oleh Mbah Ahmad ( Muhammad ) Alim ini, Kiai Shaleh Darat diperbantukan kepada Zain al-Alim ( putra Mbah Ahmad Alim ), untuk mengasuh sebuah pesantren di Dukuh Salatiyang, Desa Maron, Kecamatan Loano, Purworejo.
Melihat keragaman kitab-kitab yang diperoleh oleh Kiai Shaleh Darat dari beberapa gurunya, menunjukkan betapa kemampuan dan keahlian Kiai Shaleh Darat di bidang ilmu agama.
Pergi ke Makkah
Setelah belajar di beberapa daerah di
Jawa, Kiai Shaleh Darat bersama ayahnya berangkat ke Makkah untuk
menunaikan ibadah haji. Ayahnya wafat di Makkah, kemudian Kiai Shaleh
Darat menetap di Makkah beberapa tahun untuk memperdalam ilmu agama.
Pada waktu itu, abad ke-19, banyak santri Indonesia yang berdatangan ke
Makkah guna menuntut ilmu agama di sana. Termasuk Kiai Shaleh Darat. Ia
pergi ke Makkah dan bermukim di sana guna menuntut ilmu agama dalam
waktu yang cukup lama. Sayangnya, tidak diketahui secara pasti tahun
berapa ia pergi ke Makkah dan kapan ia kembali ke tanah air.
Kiai-Kiainya di Makkah
Yang jelas, selama di Makkah, Kiai Shaleh Darat telah berguru kepada tidak kurang dari sembilan ulama setempat. Mereka adalah :
1. Syekh Muhammad al-Maqri a-Mishri al-Makki. Kepadanya ia belajar ilmu-ilmu aqidah, khusunya kitab Ummul Barahin karya Imam Sanusi (al-Sanusi).
2. Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasballah. Ia adalah pengajar di Masjid al-Haram dan al-Nabawi. Kepadanya, Kiai Shaleh Darat belajar fiqih dengan menggunakan kitab Fath al-Wahhab dan Syarh al-Khatib, serta Nahwu dengan menggunakan kitab Alfiyah Ibnu Malik.Sebagaimana tradisi belajar tempo dulu, setelah menyelesaikan pelajaran-pelajaran tersebut, Kiai Shaleh Darat juga memperoleh “Ijazah”. Adanya istilah ijazah dikarenakan penerimaan ilmu tersebut memiliki sanad. Dalam hal ini, Kiai Shaleh Darat mendapatkan ilmu dari Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasballah yang memperoleh ilmu tersebut dari gurunya, Syekh Abdul Hamid a-Daghastani, dan al-Dagastani mendapatkan dari Ibrahim Bajuri yang mendapatkan ilmunya dari al-Syarqawi, pengarang kitab Syarh al-Hikam.
3.Al-‘Allamah Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, mufti madzab Syafi’iyah di Makkah.
Kepadanya Kiai Shaleh Darat belajar Ihya’ Ulum al-Diin. Dari sini ia juga mendapatkan ijazah.
4. Al-‘Allamah Ahmad An-Nahawi al-Mishri al-Makki.
Kepadanya Kiai Shaleh Darat belajar al-Hikam karya Ibnu Atha’illah.
5.Sayyid Muhammad Shalih al-Zawawi al-Makki, salah seorang guru di Masjid Nabawi.Darinya, Kiai Shaleh Darat belajar kitab Ihya’ Ulum al-Din juz 1 dan 2.
6. Kiai Zahid.
Darinya Kiai Shaleh Darat juga belajar kitab Fath al-Wahhab.
7. Syekh Umar a-Syami.
Darinya Kiai Shaleh Darat juga belajar kitab Fath al-Wahhab.
8. Syekh Yusuf al-Sanbalawi al-Mishri.Darinya Kiai Shaleh Darat belajar Syarh al-Tahrir karya Zakaria al-Anshari.
9. Syekh Jamal, seoang Muftti Madzab Hanafiyyah di Makkah.
Darinya Kiai Shaleh Darat belajar Tafsir al-Qur’an.
4. Al-‘Allamah Ahmad An-Nahawi al-Mishri al-Makki.
Kepadanya Kiai Shaleh Darat belajar al-Hikam karya Ibnu Atha’illah.
5.Sayyid Muhammad Shalih al-Zawawi al-Makki, salah seorang guru di Masjid Nabawi.Darinya, Kiai Shaleh Darat belajar kitab Ihya’ Ulum al-Din juz 1 dan 2.
6. Kiai Zahid.
Darinya Kiai Shaleh Darat juga belajar kitab Fath al-Wahhab.
7. Syekh Umar a-Syami.
Darinya Kiai Shaleh Darat juga belajar kitab Fath al-Wahhab.
8. Syekh Yusuf al-Sanbalawi al-Mishri.Darinya Kiai Shaleh Darat belajar Syarh al-Tahrir karya Zakaria al-Anshari.
9. Syekh Jamal, seoang Muftti Madzab Hanafiyyah di Makkah.
Darinya Kiai Shaleh Darat belajar Tafsir al-Qur’an.
Dari sinilah, Kiai Shaleh Darat
mendapatkan ijazah ketika selesai mempelajari kitab-kitab tertentu,
semisal Fath al-Wahhab, Syarh al-Khatib dan Ihya’ Ulum a-Din. Dari sini
pulalah apa yang dipelajari Kiai Shaleh Darat dari kitab-kitab tersebut,
berpengaruh besar terhadap isi kitab yang dikarangnya, yaitu Majmu’
al-Syariat al-Kafiyah li al-awwam.
Jaringan Keulamaan Kiai Shaleh Darat :
Semasa belajar di Makkah, Kiai Shaleh
Darat banyak bersentuhan dengan ulama-ulama Indonesia yang belajar di
sana. Di antara para ulama yang sezaman dengannya adalah:
1.Kiai Nawawi Banten, disebut juga Syekh Nawawi al-Bantani.
2. Syekh Ahmad Khatib.
Ia seorang ulama asal Minangkabau. Lahir pada 6 Dzulhijjah 1276 (26 Mei 1860 M) dan wafat di Makkah pada 9 Jumadil Awwal (1916 M). Dalam sejarahnya, dua tokoh pendiri NU dan Muhamadiyyah KH. Hasyim As’ari dan KH. Ahmad Dahlan pernah menjadi murid Ahmad Khatib. Tercatat ada sekitar 49 karya yang pernah ditulisnya. Di antaranya kiitab Al-Nafahat dan Al-Jawahir fi A’mal a-Jaibiyyat.
3. Kiai Mahfuzh a-Tirmasi.
Ia adalah kakak dari Kiai Dimyati. Selama di Mekkah, ia juga berguru kepada Ahmad Zaini Dahlan. Ia wafat tahun 1338 H (1918 M).
4. Kiai Khalil Bangkalan, Madura. Ia adalah salah seorang teman dekat Kiai Shaleh Darat. Namanya cukup terkenal di kalangan para Kiai pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. ia belajar di Mekkah sekitar pada tahun 1860 dan wafat pada tahun 1923.
Diajak pulang oleh Kiai Hadi Girikusumo
Ketinggian ilmu Kiai Shaleh Darat
tidak hanya bisa dilihat dari karya-karya monumental dan keberhasilan
para santrinya menjadi para kiai besar tetapi juga bisa dilihat dari
pengakuan penguasa Mekkah saat Kiai Shaleh Darat bermukim di Mekkah. Ia
dipilih menjadi salah seorang pengajar di Mekkah. Di sinilah Kiai Shaleh
Darat bertemu dengan Mbah Hadi Girikusumo pendiri pondok pesantren Ki
Ageng Girikusumo, Mranggen, Demak, Jawa Tengah. Ia merupakan figur yang
sangat berperan dalam menghadirkan Kiai Shaleh Darat ke bumi
Semarang.Melihat kehebatan Kiai Shaleh Darat Mbah Hadi Girikusumo merasa
terpanggil untuk mengajaknya pulang bersama-sama ke tanah air untuk
mengembangkan islam dan mengajar umat islam di Jawa yang masih awam.
Namun karena Kiai Shaleh Darat sudah
diikat oleh penguasa Mekkah untuk menjadi pengajar di Mekkah, sehingga
ajakan pulang itu ditolak. Namun Mbah Hadi nekat, Kiai Shaleh Darat
diculik, di ajak pulang. Agar tidak ketahuaan, saat mau naik kapal untuk
pulang ke! Jawa, Kiai Shaleh Darat dimasukkan ke dalam peti bersama
barang bawaannya. Namun di tengah jalan ketahuan, jika Mbah Hadi
menculik salah seorang ulama di Masjid Mekkah. Akhirnya pada saat kapal
merapat di pelabuhan Singapura, Mbah Hadi ditangkap. Jika ingin bebas
maka harus mengganti dengan sejumlah uang sebagai denda. Para murid Mbah
Hadi yang berada di Singapura mengetahui bila gurunya sedang menghadapi
masalah besar, akhirnya membantu menyelesaikan masalah tersebut dengan
mengumpulkan dana iuran untuk menebus kesalahan mbah Hadi dan menebus
uang ganti kepada penguasa Mekkah atas kepergian Kiai Shaleh Darat.
Akhirnya, mbah Hadi dan Kiai Shaleh Darat berhasil melanjutkan
perjalanan dan berhasil mendarat ke Jawa.
Mbah Hadi langsung kembali ke
Girikusumo, sedangkan Kiai Shaleh Darat menetap di Semarang, mendirikan
pesantren dan mencetak kader-kader pelanjut perjuangan Islam. Sayang
sekali, sepeninggalan Kiai Shaleh Darat, pesantrennya tidak ada yang
melanjutkan, kini di bekas pesantren yang dulu digunakan oleh Kiai
Shaleh Darat untuk mengajar mengaji hanya berdiri sebuah masjid yang
masih digunakan untuk menjalankan ibadah umat islam di kampung Darat
Semarang.
Tentang Teori Kebebasan Manusia
Ia juga terkenal sebagai pemikir dalam
bidang ilmu kalam. Menurut Nur Kholis Majid, seorang cendikiawan muslim
Indonesia, Kiai Shaleh Darat sangat kuat mendukung paham teologi
Asy’ariyyah dan Maturidiyah. Pembelaannya pada paham ini jelas kelihatan
dalam bukunya Tarjamah Sabil al-‘Abid ‘ala Jauhar al-Tauhid. Di sini ia
mengemukakan penafsirannya tentang sabda Nabi SAW bahwa akan terjadi
perpecahan umat Islam menjadi 73 golongan dan hanya satu golongan yang
selamat, yaitu mereka yang berkelakuan seperti yang dilakukan Rasulullah
Muhammad SAW, yakni melaksanakan akaid, pokok-pokok kepercayaan ahlus
sunnah wajama’ah, Asy’aiyah dan Maturidiyah.
Selanjutnya dalam teori ilmu kalam
yang berkaitan dengan perbuatan manusia, ia menjelaskan bahwa paham
Jabariyah dan Qadariyah tentang perbuatan manusia adalah sesat. Yang
benar adalah paham Ahlus Sunnah yang berada di tengah antara Jabariyah
dan Qodariyah. Sebagai ulama yang berfikir maju, ia senantiasa
menekankan perlunya ikhtiar dan kerja keras, setelah itu baru
menyerahkan diri secara pasrah kepada Yang Maha Esa. Ia sangat mencela
orang yang tidak mau bekerja keras karena memandang segala nasibnya
telah ditaqdirkan Allah SWT. sebaliknya, ia juga tidak setuju dengan
teori kebebasan manusia yang menempatkan manusia sebagai pencipta hakiki
atas segala perbuatannya.
Sang Delegator Pesantren
Dalam sejarah pesantren, Kiai Shaleh
Darat layak disebut sebagai “ elegator Pesantren”. Karena ia tidak
pernah ikut membesarkan pesantren orang tuanya, sebagaimana mafhumnya
anak-anak kiai. Ia justru lebih memilih membantu memajukan pesantren
orang lain dan membuat pesantren sendiri, dengan tanpa maksud menobatkan
dirinya sebagai pengasuh pesantren.
Karir kekiaian Kiai Shaleh Darat
diawali sebagai guru yang diperbantukan di pesantren Salatiyang yang
terletak di Desa Maron, Kecamatan Loano, Purworejo. Pesantren ini
didirikan sekitar abad 18 oleh tiga orang sufi, masing-masing Kiai Ahmad
( Muhammad ) Alim, Kiai Muhammad Alim ( putra Mbah Kyai Ahmad Alim ),
dan Kiai Zain al Alim ( Muhammad Zein, juga putra Mbah Kyai Ahmad Alim
). Dalam perkembangan selanjutnya pesanten ini dipercayakan kepada Kiai
Zain al Alim. Sementara Mbah Kiai Ahmad ( Muhammad )Alim mengasuh sebuah
pesantren, belakangan bernama al-Iman, di desa Bulus, Kecamatan Gebang.
Adapun Kiai Muhamad Alim ( putra Mbah Kyai Ahmad Alim ) mengembangkan
pesantrennya juga di Desa Maron, yang kini dikenal dengan pesantren
al-Anwar. Jadi kedudukan Kiai Shaleh Darat adalah sebagai pengajar yang
membantu Kiai Zain al Alim ( Muhammad Zein ).
Pesantren Salatiyang sendiri lebih menfokuskan pada bidang penghafalan al-Qur’an, di samping mengajar kitab kuning. Di sinilah besar kemungkinannya, Kiai Shaleh Darat diperbantukan untuk mengajar kitab kuning, seperti fiqh, tafsir dan nahwu Sharaf, kepada para santri yang sedang menghafal al-Qur’an.
Di antara santri jebolan Salatiyang
adalah Kiai Baihaqi (Magelang). Kiai Ma’aif, Wonosobo, Kiai Muttaqin,
Lampung Tengah, Kiai Hidayat (Ciamis) Kiai Haji Fathulah (Indramayu),
dan lain sebagainya.
Tidak jelas, berapa lama Kiai Shaleh Darat mengajar di pesantren Salatiyang. Sejarah hanya mencatat, bahwa pada sekitar 1870-an Kiai Shaleh Darat mendirikan sebuah pesantren baru di Darat, Semarang. Hitungan angka ini didasarkan pada kitabnya , alHikam, Yang ditulis rampung dengan menggunakan Bahasa Arab Pegon pada tahun 1289 H/1871 M. pesantren Darat merupakan pesanten tertua kedua di Semarang setelah pesantren Dondong, Mangkang Wetan, Semarang yang didirikan oleh Kiai Syada’ dan Kiai Darda’, dua mantan prajurit Diponegoro. Di pesantren ini pula Kiai Shaleh Darat pernah menimba ilmu sebelum pergi ke Mekkah.
Selama mengasuh pesanten, Kiai Shaleh
Darat dikenal kurang begitu memperhatikan kelembagaan pesantren. Karena
factor inilah, pesantren Darat hilang tanpa bekas sepeninggalan Kiai
Shaleh Darat, pada 1903 M. konon bersamaan meninggalnya Kiai Shaleh
Darat, salah seorang santri seniornya, Kiai Idris dari Solo, telah
memboyong sejumlah santri dari Pesantren Darat ini ke Solo. Kiai Idris
inilah yang kemudian menghidupkan kembali pondok pesantren Jamsaren,
yang pernah didirikan oleh Kiai Jamsari.
Ada versi lain yang menyebutkan bahwa pesantren yang didirikan oleh Kiai Shaleh Darat bukanlah pesantren dalam arti sebenarnya, di mana ada bangunan fisik yang mendukung. Pesantren Darat hanyalah majelis pengajian dengan kajian bermutu yang diikuti oleh parasantri kalong. Ini mungkin terjadi, mengingat kedekatan pesantren Darat dengan pesantren Mangkang, dimana Kiai Shaleh Darat pernah belajar di sana, bisa mempengaruhi tingkat ketawadlu’an kiai senior.
Menikah
Selama hayatnya, Kiai Shalih Darat pernah menikah tiga kali. Perkawinannya yang pertama adalah ketika ia masih berada di Makkah. Tidak jelas siapa nama istrinya. Dari perkawinanya pertama ini, ia dikarunia seorang anak yang diberi nama Ibrahim. Tatkala Kiai Shalih Darat pulang ke Jawa, istrinya telah meninggal dunia dan Ibrahim tidak ikut serta ke Jawa. Ibrahim ini tidak mempunyai keturunan. Untuk mengenang anaknya (Ibrahim) yang pertama ini, Kiai Shalih Darat menggunakan nama Abu Ibrahim dalam halaman sampul kitab tafsirnya, Faidh al-Rahman.
Selama hayatnya, Kiai Shalih Darat pernah menikah tiga kali. Perkawinannya yang pertama adalah ketika ia masih berada di Makkah. Tidak jelas siapa nama istrinya. Dari perkawinanya pertama ini, ia dikarunia seorang anak yang diberi nama Ibrahim. Tatkala Kiai Shalih Darat pulang ke Jawa, istrinya telah meninggal dunia dan Ibrahim tidak ikut serta ke Jawa. Ibrahim ini tidak mempunyai keturunan. Untuk mengenang anaknya (Ibrahim) yang pertama ini, Kiai Shalih Darat menggunakan nama Abu Ibrahim dalam halaman sampul kitab tafsirnya, Faidh al-Rahman.
Perkawinannya yang kedua dengan Sofiyah, puteri Kiai Murtadha teman karib bapaknya, Kiai Umar, setelah ia kembali di Semarang. Dari pekawinan ini, mereka dikarunia dua orang putera, Yahya dan Khalil. Dari kedua putranya ini, telah melahirkan beberapa anak dan keturunan yang bisa dijumpai hingga kini. Sedangkan perkawinannya yang ketiga dengan Aminah, puteri Bupati Bulus, Purworejo, keturunan Arab. Dari perkawinannya ini, mereka dikaruniai anak. Salah satu keturunannya adalah Siti Zahrah. Siti Zahrah dijodohkan dengan Kiai Dahlan santri Kiai Shalih Darat dari Tremas, Pacitan. Dari perkawinan ini melahirkan dua orang anak, masing masing Rahmad dan Aisyah. Kiai Dahlan meninggal di Makkah, kemudian Siti Zahrah dijodohkan dengan Kiai Amir, juga santri sendiri asal Pekalongan. Perkawinan kedua Siti Zahrah tidak melahirkan keturunan.
MENDIRIKAN PONDOK PESANTREN
Sebagaimana tradisi ulama dunia Melayu terutama ulama Jawa dan Patani pada zaman itu, bahwa setelah pulang dari Makkah harus mendirikan pusat pengajian berupa Pondok Pesantren. Mbah Saleh mendirikan pondok pesantren di pesisir kota Semarang. Sejak itulah beliau dipanggil orang dengan gelar Kyai Saleh Darat Semarang. Terkenal sebagai pendiri pesantren nama beliau semakin berkibar di seantero Jawa, terutama Jawa Tengah. Diantara murid-murid beliau yang menjadi ulama tersohor adalah:
Sebagaimana tradisi ulama dunia Melayu terutama ulama Jawa dan Patani pada zaman itu, bahwa setelah pulang dari Makkah harus mendirikan pusat pengajian berupa Pondok Pesantren. Mbah Saleh mendirikan pondok pesantren di pesisir kota Semarang. Sejak itulah beliau dipanggil orang dengan gelar Kyai Saleh Darat Semarang. Terkenal sebagai pendiri pesantren nama beliau semakin berkibar di seantero Jawa, terutama Jawa Tengah. Diantara murid-murid beliau yang menjadi ulama tersohor adalah:
1. KH. Hasyim Asy’ari (Pendiri Nahdlatul Ulama)
2. Syekh Mahfudz At-Turmusi (Ulama Besar Madz-hab Syafi’i yang ahli dalam bidang hadits).
3. KH. Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah)
4. KH. Bisri Syamsuri (Pendiri Pesantren Mamba’ul Ma’arif Jombang).
5. KH. Idris (Pendiri Pondok Pesantren Jamsaren, Solo)
6. KH. Sya’ban (Ulama Ahli Falak di Semarang)
7. KH. Dalhar (Pendiri pondok pesantren Watuco-ngol Muntilan, Magelang).
8. Raden Ajeng Kartini, yang menjadi simbol kebang-gaan kaum wanita Indonesia.
Yang mengagumkan dari kesekian murid beliau, ada tiga orang yang disahkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia, yaitu KH. Ahmad Dahlan (1868–1934 M.), dengan Surat Keputusan Pemerintah RI, No. 657, 27 Desember 1961, Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari (1875–1947 M.), dengan Surat Keputusan Presi-den RI, No. 294, 17 November 1964, Raden Ajeng Kartini (1879–1904 M.), dengan Surat Keputusan Presiden RI, No. 108, 12 Mei 1964.
Petemuan Kiai Sholeh Darat dengan RA Kartini
Tidak banyak cerita yang diketahui mengenai seberapa jauh hubungan
Kiai Sholeh Darat dengan RA Kartini. Kartini sendiri tidak menyebutkan
nama Kiai ini dalam surat-suratnya yang dibukukan menjadi buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” oleh Armijn Pane. Namun cerita dari salah satu cucu Kiai ini dapat memberikan sedikit pencerahan.
Ibu Fadhila Sholeh, sang cucu menuturkan bahwa takdir mempertemukan RA Kartini dengan Kiai Sholeh Darat dalam sebuah pengajian di pendopo rumah bupati Demak, Pangeran Ario Hadiningrat yang juga merupakan paman RA Kartini. Sang Kiai pada saat itu menerangkan tafsir dari surat Al Fatihah.
RA Kartini yang ikut menyimak, tak kuasa untuk menyampaikan sesuatu kepada Kiai Sholeh Darat di akhir acara.“Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.
Kyai Sholeh tertegun. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh balik bertanya.
Kartini telah menggugah kesadaran Kyai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Alquran ke dalam Bahasa Jawa.
Hadiah Perkawinan Yang Luar Biasa
Kiai Sholeh Darat pun memutuskan untuk melanggar aturan Belanda saat
itu yang tak mengijinkan penerjemahan Al Qur’an ke dalam bahasa Jawa.
Untuk menutupinya, Sang Kiai menerjemahkan Al Qur’an dengan menggunakan
tulisan “Pegon”, huruf yang dipakai adalah
bahasa Arab namun bahasa yang dituliskan adalah bahasa jawa. Kitab
tafsir dan terjemahan Qur’an ini diberi nama Kitab Faidhur-Rohman, tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab.
Tak lama setelah itu, RA Kartini menikah dengan R.M. Joyodiningrat, seorang Bupati Rembang. Sebagai penghargaan dan dengan semangat dakwah, kitab tafsir tersebut dihadiahkan kepada RA Kartini.
Salah satu tafsir ayat yang menggugah hati RA Kartini dan senantiasa diulang-ulangnya dalam berbagai suratnya kepada sahabat penanya di Belanda adalah surat Al Baqarah ayat 257.
Kalimat: مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ (minazhzhulumaati ilannuur) yang dalam bahasa belanda Door Duisternis Toot Licht itu sebenarnya berarti dari kegelapan menuju cahaya bukan habis gelap terbitlah terang.
RA Kartini ditakdirkan Allah tak berumur panjang, setahun setelah menikah, beliau dipanggil Ilahi beberapa hari setelah melahirkan anak pertamanya. Namun, di hari-hari terakhirnya, dakwah islam yang diikutinya serta cahaya yang dibawa oleh terjemahan Al Qur’an karya Kiai Sholeh Darat telah mulai menyinari hati dan kehidupannya. Hingga pandangannya tentang dunia Barat pun berubah sebagaimana terlihat dalam surat-surat beliau di akhir masa kehidupannya:
Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Maafkan kami. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban.
Tidak sekali-kali kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa, atau orang Jawa kebarat-baratan.
[Surat kepada Nyonya Abendanon, 27 Oktober 1902]
Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disukai.
[Surat kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902]
Lalu dalam surat ke Ny Abendanon, bertanggal 1 Agustus 1903, RA Kartini menulis;Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah.
GORESAN PENA MBAH SALEH DARAT.
Diantara karya-karya Mbah Saleh yang terlahir dari tangan kreatifnya adalah:
1. Majmu’ah Asy-Syari’ah Al-Kafiyah li Al-Awam, kandungannya membicarakan ilmu syari’at untuk orang awam.
2. Al-Hakim, kandungannya tentang ilmu tasawuf, yang merupakan petikan-petikan penting dari kitab Hikam karya Syekh Ibnu Atho’ilah As-Sakandari.
3. Kitab Munjiyat, kandungannya tentang ilmu tasawuf, yang merupakan petikan penting dari kitab Ihya’ Ulumuddin karya Al-Ghazali.
4. Kitab Batha’if At-Thaharah, kandungannya mem-bicarakan tentang hukum bersuci.
5. Kitab Faidhir Rahman, kandungannya merupakan terjemahan dari tafsir Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa. Kitab ini merupakan terjemahan dari tafsir Al-Qur’an yang pertama dalam bahasa Jawa di dunia Melayu. Menurut riwayat, satu naskah kitab tafsir tersebut pernah dihadiahkan kepada RA. Kartini ketika mrnikah dengan RM. Joyodiningrat (Bupati Rembang).
6. Kitab Manasik Al-Hajj, kandungannya membicara-kan tentang tata cara mengerjakan haji.
7. Kitab Ash-Shalah, kandungannya membicarakan tentang tata cara sholat.
8. Terjemahan Sabil Al-‘Abid ‘Ala Jauharah At-Tauhid, kandungannya tentang aqidah Ahli Sunnah Wal Jama’ah, mengikut pegangan Iman Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi.
9. Mursyid Al-Wajiz, membahas tentang tasawuf dan akhlak.
10. Minhaj Al-Atqiya’, membahas tentang tasawuf dan akhlak.
11. Kitab Hadits Al-Mi’raj, membahas tentang perjala-nan Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Baitul Maqdis dan selanjutnya ke Mustawa menerima perintah sholat lima waktu sehari semalam. Kitab ini sama kandugannya dengan Kifayah Al-Muhtaj karya Syekh Daud Bin Abdullah Al-Fathani.
12. Kitab Asrar As-Shalah, membahas tentang rahasia-rahasia shalat.
Hampir semua karya Mbah Saleh Darat ditulis dalam bahasa Jawa dan menggunakan huruf Arab (Pegon atau Jawi), hanya sebagian kecil yang ditulis dalam Bahasa Arab bahkan sebagian orang berpendapat bahwa orang yang paling berjasa menghidupkan dan menyebarluaskan tulisan pegon (tulisan Arab Bahasa Jawa) adalah Mbah Saleh Darat Semarang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar