Kyai Utsman Al-Ishaqiy; Penggagas Haul dan Manaqiban
“Habib Utsman Surabaya,” begitu Habib Ali Bungur menyebut kepada kyai yang kita kenal dengan KH. M. Utsman bin Nadi al-Ishaqy Jatipurwo Surabaya. Yang merupakan murid kesayangan dari Syaikhona Kholil, Hadhratus Syaikh Hasyim Asy’ari dan Mbah Romli Tamim. Semua tokoh besar ulama dan habaib waktu itu pasti mengenalnya, menyayanginya dan mengakui kewalian dan keulamaannya.Di Jombang, saat mudanya, beliau sudah dikenal sebagai “Singa Podium”. Melanglang buana dari podium ke podium untuk memberikan ceramah. Pernah suatu hari ia diundang untuk berceramah di Jombang. Tiba-tiba di tengah ceramahnya sang guru datang, Mbah Romli Tamim. Demi menjaga adabnya terhadap guru, seketika ceramah dirubahnya menjadi pertunjukan dalang. Mendalang dipilihnya karena itu yang tidak bisa dilakukan sang guru.
Setelah sekian lama memberikan ceramah kesana kemari, ia merasa kurang mengena manfaatnya di khalayak. Akhirnya digagaslah kegiatan “Manaqiban” sebagaimana yang ramai dan kita kenal saat ini. Beliaulah penggagasnya, dan Haul.
Diba’iat Menjadi Mursyid
Dalam pandangan Kiyai Romli, Kiyai Utsman selama mondok dan sebagai
murid Thariqah, memiliki keistimewaan dan kekhususan yang tidak dimiliki
oleh santri lainnya. Seperti ketika Kiyai Utsman berusia 13 tahun
memiliki kemampuan melihat Ka’bah di Makkah tanpa harus datang ke
Masjidil Haram. Juga kemampuannya melihat kepribadian seseorang
menyerupai serigala, dan hewan sejenis tergantung nafsunya
masing-masing. Termasuk selama mondok di Rejoso ini Kiyai Utsman sering
dijumpai oleh Nabi Khidir As.
Kiyai Romli berpendapat bahwa untuk meneruskan ajaran thariqah Qadiriyah
wa Naqsabandiyah, diperlukan estafet kepemimpinan thariqah. Dalam hal
ini diperlukan seorang mursyid (guru) baru. Ini dimaksudkan agar ajaran
thariqah tetap langgeng sampai kiamat nanti. Diantara sekian murid
(santri) yang menurut pandangan Kiyai Romli memiliki kemampuan sebagai
mursyid thariqah ialah Kiyai Utsman.
Maka pada suatu hari tepatnya jam 2 dini hari Kiyai Utsman diminta
menghadap Kiyai Romli untuk diangkat menjadi Mursyid Thariqah Qadiriyah
wa Naqsabandiyah. Ketika Kiyai Romli melaksanakan perintah Allah dengan
cara mengusapkan tangannya di atas kepala Kiyai Utsman, maka seketika
itu pula Kiyai Utsman pingsan tidak sadarkan diri selama satu minggu,
selama itu pula beliau tidak makan tidak minum tidak tidur tidak mandi
tidak buang air besar maupun kecil juga tidak salat.
Setelah resmi menjadi mursyid, Kiyai Utsman atas saran Kiyai Romli
diminta tinggal di Desa Ngelunggih tidak jauh dari Rejoso. Tidak
beberapa lama kemudian Kiyai Utsman pindah ke dekat gunung Lawu Ngawi
untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Ketika ada peristiwa Madiun,
banyak yang menyarankan agar Kiyai Utsman pulang kampung di Surabaya.
Meski masyarakat dimana beliau tinggal banyak yang keberatan, bahkan
jika Kiyai Utsman mau tetap tinggal di Ngawi, ada sebagian masyarakat
berkenan menghibahkan tanah seluas 20 ha. Akan tetapi Kiyai Utsman tetap
memilih kembali ke Surabaya.
Istiqomah dalam Perilaku
Kiyai Utsman sejak kecil hingga akan pulang ke rahmatullah selalu
istiqomah dalam perilaku. Perbuatan serta ucapan-ucapannya selalu meniru
Rasulullah Saw. Semua menyaksikan bahwa seluruh waktunya hanyalah untuk
mengabdi kepada Allah. Maka pantaslah jika kemudian Kiyai Romli memilih
Kiyai Utsman sebagai kholifahnya. Dalam hal ini Kiyai Romli pernah
bermimpi bahwa di Surabaya terdapat sebuah pabrik besar yang
terus-menerus berproduksi di bawah pimpinan Kiyai Utsman, itulah
thariqah Qadiriyah wa Naqsabadiyah yang beliau asuh.
Karena saking cintanya kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani Ra, Kiyai
Utsman kemudian merintis penyelenggaraan manaqiban dengan cara membaca
sejarah singkat Syekh Abdul Qadir al-Jailani Ra. seorang ulama besar
asal Timur Tengah. Kegiatan yang merupakan rintisan ini ternyata
mendapat sambutan yang cukup baik dari Kiyai Romli Rejoso dan akhirnya
Kiyai Romli menyetujui dan meminta untuk diteruskan (dilanggengkan).
Salah satu kegemaran Kiyai Utsman ialah melakukan ziarah ke wali-wali
Allah baik yang masih hidup maupun yang sudah mati. Bahkan karena
dekatnya hubungan beliau dengan para wali Allah, Kiyai Utsman
menyemarakkan peringatan hari wafat mereka (haul), terutama wafatnya
Syekh Abdul Qadir al-Jailani Ra. sehingga tiada terlewatkan setiap
harinya di kota maupun di desa di Jawa Timur untuk senantiasa menggelar
manaqib.
Setelah Kiyai Utsman mendapat kepercayaan dari kiyai Romli sebagai
kholifah (mursyid thariqah), beliau di rumah Jatipurwo menggelar acara
manaqiban selama 4 tahun yang hanya diikuti oleh 7 orang. Di
tengah-tengah memimpin istighotsah, Kiyai Utsman didatangi oleh
seseorang yang tidak dikenal, kemudian menelentangkan Kiyai Utsman
dengan sebilah pedang di leher kiyai.
Peristiwa tragis ini kemudian disampaikan ke Kiyai Romli, dan beliau
hanya menjawab: “Teruskan apa yang telah kamu amalkan, pasti orang itu
tidak berani lagi mengulangi perbuatan yang sama”. Apa yang yang
disampaikan oleh Kiyai Romli benar-benar terjadi, bukannya orang
tersebut mengulangi lagi perbuatan yang sama, akan tetapi malah menjadi
pengikut Kiyai Utsman yang setia.
Beberapa Karomah yang Dimiliki Kiyai Utsman
KH. Ahmad Asrori al-Ishaqi (salah satu putra Kiyai Utsman) menceritakan,
ketika ayahanda berusia 13 tahun mempunyai kemampuan melihat Ka’bah
secara nyata dari rumahnya Jatipurwo Surabaya. Beliau menganggap apa
yang dilihatnya merupakan mimpi, tapi setelah berkali-kali matanya
diusap, bahwa apa yang dia lihat bukan sekedar mimpi, akan tetapi
benar-benar terjadi dan yang tampak hanyalah Ka’bah di Makkah. Kemudian
Kiyai Utsman minta dibelikan kaca mata, beliau mengira bahwa matanya
sudah rusak. Setelah dibelikan dan dipakai, ternyata hasilnya sama saja.
Menurut Kiyai Asrori, itulah awal kasyaf yang dialami ayahandanya dan
sejak saat itu Kiyai Utsman bisa melihat orang dengan segala
kepribadiannya. Ada yang menyerupai serigala, ada yang seperti ayam dan
kucing tergantung pembawaan nafsu masing-masing. Akan tetapi Kiyai
Utsman tidak berani mengatakan terus terang, karena hal itu menyangkut
kerahasiaan seseorang.
Pada saat bermukim di lereng gunung dekat Ngawi, Kiyai Utsman pernah
bermimpi ketemu KH. Hasyim Asy’ari Tebuireng dan berpamitan dengan Kiyai
Utsman dengan mengatakan: “Saya duluan Utsman!”. Ternyata pada esok
harinya beliau mendengar berita bahwa KH. Hasyim Asy’ari meninggal dunia
(pulang kerahmatullah).
Kiyai Muhammad Faqih Langitan Tuban pernah mengatakan bahwa Kiyai Zubeir
Sarang Rembang bermimpi ketemu Rasulullah Saw. sedang menemui 2 orang
laki-laki dan Rasulullah Saw. menyatakan kepada Kiyai Zubeir:
“Keluargaku banyak tersebar di tanah Jawa diantaranya ialah Romli dan
Utsman”.
Salah seorang sopir Kiyai Utsman pernah mengatakan, dalam perjalanan
dari Rejoso menuju Surabaya, tiba-tiba mobil yang dikendarai Kiyai
Utsman bensinnya habis padahal seluruh uang sakunya telah diserahkan ke
pondok. Kemudian Kiyai memerintahkan kepada sopirnya: “Begini saja,
tangki mobil diisi dengan air teh tanpa gula secukupnya.”
Karena sopir itu percaya dengan kyai, maka perintah itu dilaksanakan
dengan sepenuh hati. Kemudian Kyai Utsman menanyakan: “Sudah kau isi
bensin?”
“Mobil kami isi dengan teh sesuai dawuh Kyai,” jawab sopir.
Kyai Utsman pun segera mengajak pulang ke Surabaya. Dan atas izin Allah
Swt. mobil itu bisa berjalan sampai ke Surabaya dengan bahan bakar teh.
Demikian sepenggal biografi ulama besar KH. Utsman al-Ishaqi asal
Jatipurwo Surabaya, yang kemudian nama beliau terpatri dalam nama
Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah al-Utsmaniyah.
Sepeninggal Kiyai Usman, tongkat estafet mursyid Thariqah Qadiriyah wa
Naqsabandiyah al-Utsmaniyah diberikan kepada salah satu putranya yakni
alm. KH. Ahmad Asrori al-Ishaqi. Pengalihan tugas itu berdasarkan wasiat
Kiyai Utsman menjelang wafatnya.
Copy and WIN : http://ow.ly/
Copy and WIN : http://ow.ly/
Biografi KH. Utsman
Al-Ishaqi Surabaya
Manaqib Romo KH. Utsman Al-Ishaqi Surabaya
Bagi murid-murid atau pengikut Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah,
figur Kiyai Utsman tidak asing lagi. Karena disamping beliau sebagai
mursyidnya, juga penyusun silsilah thariqah yang paling banyak
pengikutnya ini.
Lahir di Surabaya pada bulan Jumadil Akhir 1334 H setelah bertapa selama
16 bulan dalam rahim ibu. Beliau memiliki silsilah keturunan hingga
Rasulullah Saw. yang ke-37. Kiyai Utsman lebih banyak masa kecilnya
dihabiskan untuk belajar dan mengaji ke beberapa guru di lingkungan
beliau lahir. Tak heran jika pada usia 7 tahun Kiyai Utsman kecil telah 3
kali khatam al-Qur’an.
Pesantren yang pertama kali disinggahi untuk menuntut ilmu ialah
pesantren yang diasuh oleh Kiyai Khozin Siwalan Panji. Tidak lama
kemudian beliau pindah ke pesantren yang diasuh Kiyai Munir Jambu
Madura. Selanjutnya oleh kedua orang tuanya, Kiyai Utsman dipondokkan di
pesantren Tebuireng Jombang asuhan KH. Hasyim Asy’ari dan akhirnya
Kiyai Utsman memantapkan hatinya untuk memperdalam ilmunya di pesantren
Rejoso Peterongan Jombang yang diasuh oleh Kiyai Romli at-Tamimi.
Keterangan: Hadhratus Syekh KH. Muhammad Utsman Al Ishaqy ( Surabaya)
bersama Habib Ali bin Husein al-Atthos Jakarta (Habib Ali Bungur)
Mengenal Thariqah
Perjalanan Kiyai Utsman dalam mencari ilmu diwarnai dengan berbagai
lelaku. Tidak saja dalam hal makanan dan minuman saja yang harus
dihindari. Akan tetapi juga dalam hal memperbanyak waktu untuk tidurpun
juga harus dijalani.
Dalam hal tirakat, Yai Utsman tidak pernah pulang ke rumah selama
mondok, kecuali badannya sudah kurus benar. Sebab jika pulang dalam
keadaan badan gemuk, dapat dipastikan kedua orang tuanya akan marah
besar. Jika hal ini terjadi, berarti selama mondok dianggap aktifitasnya
hanya makan dan minum saja, bukan mencari ilmu.
Setelah cukup waktu nyantri di Kiyai Romli, Kiyai Utsman dibai’at oleh
Kiyai Romli sebagi murid thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah dan
sekaligus mendapat tugas dari kiyainya untuk menyusun silsilah thariqah
Qadiriyah wa Naqsabandiyah yang terhimpun dalam kitab Tsamrat
al-Fikriyah.
Babak kehidupan baru pun dimulai, setelah dirasa cukup dalam menimba
ilmu dan telah menjadi salah satu murid thariqah, Kiyai Utsman pulang
kampung untuk mengamalkan berbagai disiplin ilmu yang telah dimilikinya.
Akan tetapi meski telah berada di lingkungan keluarga, Kiyai Utsman
masih secara rutin hadir ke Kiyai Romli untuk mengikuti majelis khususi
dengan cara berjalan kaki, kadang juga naik kendaraan dan itu dilakukan
selama empat tahun. Selanjutnya atas saran KH. Hasyim Asy’ari, Kiyai
Utsman beserta keluarga pindah sementara ke Peterongan agar lebih dekat
dengan gurunya.
Diba’iat Menjadi Mursyid
Dalam pandangan Kiyai Romli, Kiyai Utsman selama mondok dan sebagai
murid Thariqah, memiliki keistimewaan dan kekhususan yang tidak dimiliki
oleh santri lainnya. Seperti ketika Kiyai Utsman berusia 13 tahun
memiliki kemampuan melihat Ka’bah di Makkah tanpa harus datang ke
Masjidil Haram. Juga kemampuannya melihat kepribadian seseorang
menyerupai serigala, dan hewan sejenis tergantung nafsunya
masing-masing. Termasuk selama mondok di Rejoso ini Kiyai Utsman sering
dijumpai oleh Nabi Khidir As.
Kiyai Romli berpendapat bahwa untuk meneruskan ajaran thariqah Qadiriyah
wa Naqsabandiyah, diperlukan estafet kepemimpinan thariqah. Dalam hal
ini diperlukan seorang mursyid (guru) baru. Ini dimaksudkan agar ajaran
thariqah tetap langgeng sampai kiamat nanti. Diantara sekian murid
(santri) yang menurut pandangan Kiyai Romli memiliki kemampuan sebagai
mursyid thariqah ialah Kiyai Utsman.
Maka pada suatu hari tepatnya jam 2 dini hari Kiyai Utsman diminta
menghadap Kiyai Romli untuk diangkat menjadi Mursyid Thariqah Qadiriyah
wa Naqsabandiyah. Ketika Kiyai Romli melaksanakan perintah Allah dengan
cara mengusapkan tangannya di atas kepala Kiyai Utsman, maka seketika
itu pula Kiyai Utsman pingsan tidak sadarkan diri selama satu minggu,
selama itu pula beliau tidak makan tidak minum tidak tidur tidak mandi
tidak buang air besar maupun kecil juga tidak salat.
Setelah resmi menjadi mursyid, Kiyai Utsman atas saran Kiyai Romli
diminta tinggal di Desa Ngelunggih tidak jauh dari Rejoso. Tidak
beberapa lama kemudian Kiyai Utsman pindah ke dekat gunung Lawu Ngawi
untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Ketika ada peristiwa Madiun,
banyak yang menyarankan agar Kiyai Utsman pulang kampung di Surabaya.
Meski masyarakat dimana beliau tinggal banyak yang keberatan, bahkan
jika Kiyai Utsman mau tetap tinggal di Ngawi, ada sebagian masyarakat
berkenan menghibahkan tanah seluas 20 ha. Akan tetapi Kiyai Utsman tetap
memilih kembali ke Surabaya.
Istiqomah dalam Perilaku
Kiyai Utsman sejak kecil hingga akan pulang ke rahmatullah selalu
istiqomah dalam perilaku. Perbuatan serta ucapan-ucapannya selalu meniru
Rasulullah Saw. Semua menyaksikan bahwa seluruh waktunya hanyalah untuk
mengabdi kepada Allah. Maka pantaslah jika kemudian Kiyai Romli memilih
Kiyai Utsman sebagai kholifahnya. Dalam hal ini Kiyai Romli pernah
bermimpi bahwa di Surabaya terdapat sebuah pabrik besar yang
terus-menerus berproduksi di bawah pimpinan Kiyai Utsman, itulah
thariqah Qadiriyah wa Naqsabadiyah yang beliau asuh.
Karena saking cintanya kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani Ra, Kiyai
Utsman kemudian merintis penyelenggaraan manaqiban dengan cara membaca
sejarah singkat Syekh Abdul Qadir al-Jailani Ra. seorang ulama besar
asal Timur Tengah. Kegiatan yang merupakan rintisan ini ternyata
mendapat sambutan yang cukup baik dari Kiyai Romli Rejoso dan akhirnya
Kiyai Romli menyetujui dan meminta untuk diteruskan (dilanggengkan).
Salah satu kegemaran Kiyai Utsman ialah melakukan ziarah ke wali-wali
Allah baik yang masih hidup maupun yang sudah mati. Bahkan karena
dekatnya hubungan beliau dengan para wali Allah, Kiyai Utsman
menyemarakkan peringatan hari wafat mereka (haul), terutama wafatnya
Syekh Abdul Qadir al-Jailani Ra. sehingga tiada terlewatkan setiap
harinya di kota maupun di desa di Jawa Timur untuk senantiasa menggelar
manaqib.
Setelah Kiyai Utsman mendapat kepercayaan dari kiyai Romli sebagai
kholifah (mursyid thariqah), beliau di rumah Jatipurwo menggelar acara
manaqiban selama 4 tahun yang hanya diikuti oleh 7 orang. Di
tengah-tengah memimpin istighotsah, Kiyai Utsman didatangi oleh
seseorang yang tidak dikenal, kemudian menelentangkan Kiyai Utsman
dengan sebilah pedang di leher kiyai.
Peristiwa tragis ini kemudian disampaikan ke Kiyai Romli, dan beliau
hanya menjawab: “Teruskan apa yang telah kamu amalkan, pasti orang itu
tidak berani lagi mengulangi perbuatan yang sama”. Apa yang yang
disampaikan oleh Kiyai Romli benar-benar terjadi, bukannya orang
tersebut mengulangi lagi perbuatan yang sama, akan tetapi malah menjadi
pengikut Kiyai Utsman yang setia.
Beberapa Karomah yang Dimiliki Kiyai Utsman
KH. Ahmad Asrori al-Ishaqi (salah satu putra Kiyai Utsman) menceritakan,
ketika ayahanda berusia 13 tahun mempunyai kemampuan melihat Ka’bah
secara nyata dari rumahnya Jatipurwo Surabaya. Beliau menganggap apa
yang dilihatnya merupakan mimpi, tapi setelah berkali-kali matanya
diusap, bahwa apa yang dia lihat bukan sekedar mimpi, akan tetapi
benar-benar terjadi dan yang tampak hanyalah Ka’bah di Makkah. Kemudian
Kiyai Utsman minta dibelikan kaca mata, beliau mengira bahwa matanya
sudah rusak. Setelah dibelikan dan dipakai, ternyata hasilnya sama saja.
Menurut Kiyai Asrori, itulah awal kasyaf yang dialami ayahandanya dan
sejak saat itu Kiyai Utsman bisa melihat orang dengan segala
kepribadiannya. Ada yang menyerupai serigala, ada yang seperti ayam dan
kucing tergantung pembawaan nafsu masing-masing. Akan tetapi Kiyai
Utsman tidak berani mengatakan terus terang, karena hal itu menyangkut
kerahasiaan seseorang.
Pada saat bermukim di lereng gunung dekat Ngawi, Kiyai Utsman pernah
bermimpi ketemu KH. Hasyim Asy’ari Tebuireng dan berpamitan dengan Kiyai
Utsman dengan mengatakan: “Saya duluan Utsman!”. Ternyata pada esok
harinya beliau mendengar berita bahwa KH. Hasyim Asy’ari meninggal dunia
(pulang kerahmatullah).
Kiyai Muhammad Faqih Langitan Tuban pernah mengatakan bahwa Kiyai Zubeir
Sarang Rembang bermimpi ketemu Rasulullah Saw. sedang menemui 2 orang
laki-laki dan Rasulullah Saw. menyatakan kepada Kiyai Zubeir:
“Keluargaku banyak tersebar di tanah Jawa diantaranya ialah Romli dan
Utsman”.
Salah seorang sopir Kiyai Utsman pernah mengatakan, dalam perjalanan
dari Rejoso menuju Surabaya, tiba-tiba mobil yang dikendarai Kiyai
Utsman bensinnya habis padahal seluruh uang sakunya telah diserahkan ke
pondok. Kemudian Kiyai memerintahkan kepada sopirnya: “Begini saja,
tangki mobil diisi dengan air teh tanpa gula secukupnya.”
Karena sopir itu percaya dengan kyai, maka perintah itu dilaksanakan
dengan sepenuh hati. Kemudian Kyai Utsman menanyakan: “Sudah kau isi
bensin?”
“Mobil kami isi dengan teh sesuai dawuh Kyai,” jawab sopir.
Kyai Utsman pun segera mengajak pulang ke Surabaya. Dan atas izin Allah
Swt. mobil itu bisa berjalan sampai ke Surabaya dengan bahan bakar teh.
Demikian sepenggal biografi ulama besar KH. Utsman al-Ishaqi asal
Jatipurwo Surabaya, yang kemudian nama beliau terpatri dalam nama
Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah al-Utsmaniyah.
Sepeninggal Kiyai Usman, tongkat estafet mursyid Thariqah Qadiriyah wa
Naqsabandiyah al-Utsmaniyah diberikan kepada salah satu putranya yakni
alm. KH. Ahmad Asrori al-Ishaqi. Pengalihan tugas itu berdasarkan wasiat
Kiyai Utsman menjelang wafatnya.
Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ
Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ
Biografi KH. Utsman
Al-Ishaqi Surabaya
Manaqib Romo KH. Utsman Al-Ishaqi Surabaya
Bagi murid-murid atau pengikut Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah,
figur Kiyai Utsman tidak asing lagi. Karena disamping beliau sebagai
mursyidnya, juga penyusun silsilah thariqah yang paling banyak
pengikutnya ini.
Lahir di Surabaya pada bulan Jumadil Akhir 1334 H setelah bertapa selama
16 bulan dalam rahim ibu. Beliau memiliki silsilah keturunan hingga
Rasulullah Saw. yang ke-37. Kiyai Utsman lebih banyak masa kecilnya
dihabiskan untuk belajar dan mengaji ke beberapa guru di lingkungan
beliau lahir. Tak heran jika pada usia 7 tahun Kiyai Utsman kecil telah 3
kali khatam al-Qur’an.
Pesantren yang pertama kali disinggahi untuk menuntut ilmu ialah
pesantren yang diasuh oleh Kiyai Khozin Siwalan Panji. Tidak lama
kemudian beliau pindah ke pesantren yang diasuh Kiyai Munir Jambu
Madura. Selanjutnya oleh kedua orang tuanya, Kiyai Utsman dipondokkan di
pesantren Tebuireng Jombang asuhan KH. Hasyim Asy’ari dan akhirnya
Kiyai Utsman memantapkan hatinya untuk memperdalam ilmunya di pesantren
Rejoso Peterongan Jombang yang diasuh oleh Kiyai Romli at-Tamimi.
Keterangan: Hadhratus Syekh KH. Muhammad Utsman Al Ishaqy ( Surabaya)
bersama Habib Ali bin Husein al-Atthos Jakarta (Habib Ali Bungur)
Mengenal Thariqah
Perjalanan Kiyai Utsman dalam mencari ilmu diwarnai dengan berbagai
lelaku. Tidak saja dalam hal makanan dan minuman saja yang harus
dihindari. Akan tetapi juga dalam hal memperbanyak waktu untuk tidurpun
juga harus dijalani.
Dalam hal tirakat, Yai Utsman tidak pernah pulang ke rumah selama
mondok, kecuali badannya sudah kurus benar. Sebab jika pulang dalam
keadaan badan gemuk, dapat dipastikan kedua orang tuanya akan marah
besar. Jika hal ini terjadi, berarti selama mondok dianggap aktifitasnya
hanya makan dan minum saja, bukan mencari ilmu.
Setelah cukup waktu nyantri di Kiyai Romli, Kiyai Utsman dibai’at oleh
Kiyai Romli sebagi murid thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah dan
sekaligus mendapat tugas dari kiyainya untuk menyusun silsilah thariqah
Qadiriyah wa Naqsabandiyah yang terhimpun dalam kitab Tsamrat
al-Fikriyah.
Babak kehidupan baru pun dimulai, setelah dirasa cukup dalam menimba
ilmu dan telah menjadi salah satu murid thariqah, Kiyai Utsman pulang
kampung untuk mengamalkan berbagai disiplin ilmu yang telah dimilikinya.
Akan tetapi meski telah berada di lingkungan keluarga, Kiyai Utsman
masih secara rutin hadir ke Kiyai Romli untuk mengikuti majelis khususi
dengan cara berjalan kaki, kadang juga naik kendaraan dan itu dilakukan
selama empat tahun. Selanjutnya atas saran KH. Hasyim Asy’ari, Kiyai
Utsman beserta keluarga pindah sementara ke Peterongan agar lebih dekat
dengan gurunya.
Diba’iat Menjadi Mursyid
Dalam pandangan Kiyai Romli, Kiyai Utsman selama mondok dan sebagai
murid Thariqah, memiliki keistimewaan dan kekhususan yang tidak dimiliki
oleh santri lainnya. Seperti ketika Kiyai Utsman berusia 13 tahun
memiliki kemampuan melihat Ka’bah di Makkah tanpa harus datang ke
Masjidil Haram. Juga kemampuannya melihat kepribadian seseorang
menyerupai serigala, dan hewan sejenis tergantung nafsunya
masing-masing. Termasuk selama mondok di Rejoso ini Kiyai Utsman sering
dijumpai oleh Nabi Khidir As.
Kiyai Romli berpendapat bahwa untuk meneruskan ajaran thariqah Qadiriyah
wa Naqsabandiyah, diperlukan estafet kepemimpinan thariqah. Dalam hal
ini diperlukan seorang mursyid (guru) baru. Ini dimaksudkan agar ajaran
thariqah tetap langgeng sampai kiamat nanti. Diantara sekian murid
(santri) yang menurut pandangan Kiyai Romli memiliki kemampuan sebagai
mursyid thariqah ialah Kiyai Utsman.
Maka pada suatu hari tepatnya jam 2 dini hari Kiyai Utsman diminta
menghadap Kiyai Romli untuk diangkat menjadi Mursyid Thariqah Qadiriyah
wa Naqsabandiyah. Ketika Kiyai Romli melaksanakan perintah Allah dengan
cara mengusapkan tangannya di atas kepala Kiyai Utsman, maka seketika
itu pula Kiyai Utsman pingsan tidak sadarkan diri selama satu minggu,
selama itu pula beliau tidak makan tidak minum tidak tidur tidak mandi
tidak buang air besar maupun kecil juga tidak salat.
Setelah resmi menjadi mursyid, Kiyai Utsman atas saran Kiyai Romli
diminta tinggal di Desa Ngelunggih tidak jauh dari Rejoso. Tidak
beberapa lama kemudian Kiyai Utsman pindah ke dekat gunung Lawu Ngawi
untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Ketika ada peristiwa Madiun,
banyak yang menyarankan agar Kiyai Utsman pulang kampung di Surabaya.
Meski masyarakat dimana beliau tinggal banyak yang keberatan, bahkan
jika Kiyai Utsman mau tetap tinggal di Ngawi, ada sebagian masyarakat
berkenan menghibahkan tanah seluas 20 ha. Akan tetapi Kiyai Utsman tetap
memilih kembali ke Surabaya.
Istiqomah dalam Perilaku
Kiyai Utsman sejak kecil hingga akan pulang ke rahmatullah selalu
istiqomah dalam perilaku. Perbuatan serta ucapan-ucapannya selalu meniru
Rasulullah Saw. Semua menyaksikan bahwa seluruh waktunya hanyalah untuk
mengabdi kepada Allah. Maka pantaslah jika kemudian Kiyai Romli memilih
Kiyai Utsman sebagai kholifahnya. Dalam hal ini Kiyai Romli pernah
bermimpi bahwa di Surabaya terdapat sebuah pabrik besar yang
terus-menerus berproduksi di bawah pimpinan Kiyai Utsman, itulah
thariqah Qadiriyah wa Naqsabadiyah yang beliau asuh.
Karena saking cintanya kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani Ra, Kiyai
Utsman kemudian merintis penyelenggaraan manaqiban dengan cara membaca
sejarah singkat Syekh Abdul Qadir al-Jailani Ra. seorang ulama besar
asal Timur Tengah. Kegiatan yang merupakan rintisan ini ternyata
mendapat sambutan yang cukup baik dari Kiyai Romli Rejoso dan akhirnya
Kiyai Romli menyetujui dan meminta untuk diteruskan (dilanggengkan).
Salah satu kegemaran Kiyai Utsman ialah melakukan ziarah ke wali-wali
Allah baik yang masih hidup maupun yang sudah mati. Bahkan karena
dekatnya hubungan beliau dengan para wali Allah, Kiyai Utsman
menyemarakkan peringatan hari wafat mereka (haul), terutama wafatnya
Syekh Abdul Qadir al-Jailani Ra. sehingga tiada terlewatkan setiap
harinya di kota maupun di desa di Jawa Timur untuk senantiasa menggelar
manaqib.
Setelah Kiyai Utsman mendapat kepercayaan dari kiyai Romli sebagai
kholifah (mursyid thariqah), beliau di rumah Jatipurwo menggelar acara
manaqiban selama 4 tahun yang hanya diikuti oleh 7 orang. Di
tengah-tengah memimpin istighotsah, Kiyai Utsman didatangi oleh
seseorang yang tidak dikenal, kemudian menelentangkan Kiyai Utsman
dengan sebilah pedang di leher kiyai.
Peristiwa tragis ini kemudian disampaikan ke Kiyai Romli, dan beliau
hanya menjawab: “Teruskan apa yang telah kamu amalkan, pasti orang itu
tidak berani lagi mengulangi perbuatan yang sama”. Apa yang yang
disampaikan oleh Kiyai Romli benar-benar terjadi, bukannya orang
tersebut mengulangi lagi perbuatan yang sama, akan tetapi malah menjadi
pengikut Kiyai Utsman yang setia.
Beberapa Karomah yang Dimiliki Kiyai Utsman
KH. Ahmad Asrori al-Ishaqi (salah satu putra Kiyai Utsman) menceritakan,
ketika ayahanda berusia 13 tahun mempunyai kemampuan melihat Ka’bah
secara nyata dari rumahnya Jatipurwo Surabaya. Beliau menganggap apa
yang dilihatnya merupakan mimpi, tapi setelah berkali-kali matanya
diusap, bahwa apa yang dia lihat bukan sekedar mimpi, akan tetapi
benar-benar terjadi dan yang tampak hanyalah Ka’bah di Makkah. Kemudian
Kiyai Utsman minta dibelikan kaca mata, beliau mengira bahwa matanya
sudah rusak. Setelah dibelikan dan dipakai, ternyata hasilnya sama saja.
Menurut Kiyai Asrori, itulah awal kasyaf yang dialami ayahandanya dan
sejak saat itu Kiyai Utsman bisa melihat orang dengan segala
kepribadiannya. Ada yang menyerupai serigala, ada yang seperti ayam dan
kucing tergantung pembawaan nafsu masing-masing. Akan tetapi Kiyai
Utsman tidak berani mengatakan terus terang, karena hal itu menyangkut
kerahasiaan seseorang.
Pada saat bermukim di lereng gunung dekat Ngawi, Kiyai Utsman pernah
bermimpi ketemu KH. Hasyim Asy’ari Tebuireng dan berpamitan dengan Kiyai
Utsman dengan mengatakan: “Saya duluan Utsman!”. Ternyata pada esok
harinya beliau mendengar berita bahwa KH. Hasyim Asy’ari meninggal dunia
(pulang kerahmatullah).
Kiyai Muhammad Faqih Langitan Tuban pernah mengatakan bahwa Kiyai Zubeir
Sarang Rembang bermimpi ketemu Rasulullah Saw. sedang menemui 2 orang
laki-laki dan Rasulullah Saw. menyatakan kepada Kiyai Zubeir:
“Keluargaku banyak tersebar di tanah Jawa diantaranya ialah Romli dan
Utsman”.
Salah seorang sopir Kiyai Utsman pernah mengatakan, dalam perjalanan
dari Rejoso menuju Surabaya, tiba-tiba mobil yang dikendarai Kiyai
Utsman bensinnya habis padahal seluruh uang sakunya telah diserahkan ke
pondok. Kemudian Kiyai memerintahkan kepada sopirnya: “Begini saja,
tangki mobil diisi dengan air teh tanpa gula secukupnya.”
Karena sopir itu percaya dengan kyai, maka perintah itu dilaksanakan
dengan sepenuh hati. Kemudian Kyai Utsman menanyakan: “Sudah kau isi
bensin?”
“Mobil kami isi dengan teh sesuai dawuh Kyai,” jawab sopir.
Kyai Utsman pun segera mengajak pulang ke Surabaya. Dan atas izin Allah
Swt. mobil itu bisa berjalan sampai ke Surabaya dengan bahan bakar teh.
Demikian sepenggal biografi ulama besar KH. Utsman al-Ishaqi asal
Jatipurwo Surabaya, yang kemudian nama beliau terpatri dalam nama
Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah al-Utsmaniyah.
Sepeninggal Kiyai Usman, tongkat estafet mursyid Thariqah Qadiriyah wa
Naqsabandiyah al-Utsmaniyah diberikan kepada salah satu putranya yakni
alm. KH. Ahmad Asrori al-Ishaqi. Pengalihan tugas itu berdasarkan wasiat
Kiyai Utsman menjelang wafatnya.
Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ
Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ

Tidak ada komentar:
Posting Komentar