Daftar Blog Saya

Sabtu, 13 Juni 2015

Singa Podium

Kyai Utsman Al-Ishaqiy; Penggagas Haul dan Manaqiban

“Habib Utsman Surabaya,” begitu Habib Ali Bungur menyebut kepada kyai yang kita kenal dengan KH. M. Utsman bin Nadi al-Ishaqy Jatipurwo Surabaya. Yang merupakan murid kesayangan dari Syaikhona Kholil, Hadhratus Syaikh Hasyim Asy’ari dan Mbah Romli Tamim. Semua tokoh besar ulama dan habaib waktu itu pasti mengenalnya, menyayanginya dan mengakui kewalian dan keulamaannya.


Di Jombang, saat mudanya, beliau sudah dikenal sebagai “Singa Podium”. Melanglang buana dari podium ke podium untuk memberikan ceramah. Pernah suatu hari ia diundang untuk berceramah di Jombang. Tiba-tiba di tengah ceramahnya sang guru datang, Mbah Romli Tamim. Demi menjaga adabnya terhadap guru, seketika ceramah dirubahnya menjadi pertunjukan dalang. Mendalang dipilihnya karena itu yang tidak bisa dilakukan sang guru.

Setelah sekian lama memberikan ceramah kesana kemari, ia merasa kurang mengena manfaatnya di khalayak. Akhirnya digagaslah kegiatan “Manaqiban” sebagaimana yang ramai dan kita kenal saat ini. Beliaulah penggagasnya, dan Haul.
Diba’iat Menjadi Mursyid Dalam pandangan Kiyai Romli, Kiyai Utsman selama mondok dan sebagai murid Thariqah, memiliki keistimewaan dan kekhususan yang tidak dimiliki oleh santri lainnya. Seperti ketika Kiyai Utsman berusia 13 tahun memiliki kemampuan melihat Ka’bah di Makkah tanpa harus datang ke Masjidil Haram. Juga kemampuannya melihat kepribadian seseorang menyerupai serigala, dan hewan sejenis tergantung nafsunya masing-masing. Termasuk selama mondok di Rejoso ini Kiyai Utsman sering dijumpai oleh Nabi Khidir As. Kiyai Romli berpendapat bahwa untuk meneruskan ajaran thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah, diperlukan estafet kepemimpinan thariqah. Dalam hal ini diperlukan seorang mursyid (guru) baru. Ini dimaksudkan agar ajaran thariqah tetap langgeng sampai kiamat nanti. Diantara sekian murid (santri) yang menurut pandangan Kiyai Romli memiliki kemampuan sebagai mursyid thariqah ialah Kiyai Utsman. Maka pada suatu hari tepatnya jam 2 dini hari Kiyai Utsman diminta menghadap Kiyai Romli untuk diangkat menjadi Mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah. Ketika Kiyai Romli melaksanakan perintah Allah dengan cara mengusapkan tangannya di atas kepala Kiyai Utsman, maka seketika itu pula Kiyai Utsman pingsan tidak sadarkan diri selama satu minggu, selama itu pula beliau tidak makan tidak minum tidak tidur tidak mandi tidak buang air besar maupun kecil juga tidak salat. Setelah resmi menjadi mursyid, Kiyai Utsman atas saran Kiyai Romli diminta tinggal di Desa Ngelunggih tidak jauh dari Rejoso. Tidak beberapa lama kemudian Kiyai Utsman pindah ke dekat gunung Lawu Ngawi untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Ketika ada peristiwa Madiun, banyak yang menyarankan agar Kiyai Utsman pulang kampung di Surabaya. Meski masyarakat dimana beliau tinggal banyak yang keberatan, bahkan jika Kiyai Utsman mau tetap tinggal di Ngawi, ada sebagian masyarakat berkenan menghibahkan tanah seluas 20 ha. Akan tetapi Kiyai Utsman tetap memilih kembali ke Surabaya. Istiqomah dalam Perilaku Kiyai Utsman sejak kecil hingga akan pulang ke rahmatullah selalu istiqomah dalam perilaku. Perbuatan serta ucapan-ucapannya selalu meniru Rasulullah Saw. Semua menyaksikan bahwa seluruh waktunya hanyalah untuk mengabdi kepada Allah. Maka pantaslah jika kemudian Kiyai Romli memilih Kiyai Utsman sebagai kholifahnya. Dalam hal ini Kiyai Romli pernah bermimpi bahwa di Surabaya terdapat sebuah pabrik besar yang terus-menerus berproduksi di bawah pimpinan Kiyai Utsman, itulah thariqah Qadiriyah wa Naqsabadiyah yang beliau asuh. Karena saking cintanya kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani Ra, Kiyai Utsman kemudian merintis penyelenggaraan manaqiban dengan cara membaca sejarah singkat Syekh Abdul Qadir al-Jailani Ra. seorang ulama besar asal Timur Tengah. Kegiatan yang merupakan rintisan ini ternyata mendapat sambutan yang cukup baik dari Kiyai Romli Rejoso dan akhirnya Kiyai Romli menyetujui dan meminta untuk diteruskan (dilanggengkan). Salah satu kegemaran Kiyai Utsman ialah melakukan ziarah ke wali-wali Allah baik yang masih hidup maupun yang sudah mati. Bahkan karena dekatnya hubungan beliau dengan para wali Allah, Kiyai Utsman menyemarakkan peringatan hari wafat mereka (haul), terutama wafatnya Syekh Abdul Qadir al-Jailani Ra. sehingga tiada terlewatkan setiap harinya di kota maupun di desa di Jawa Timur untuk senantiasa menggelar manaqib. Setelah Kiyai Utsman mendapat kepercayaan dari kiyai Romli sebagai kholifah (mursyid thariqah), beliau di rumah Jatipurwo menggelar acara manaqiban selama 4 tahun yang hanya diikuti oleh 7 orang. Di tengah-tengah memimpin istighotsah, Kiyai Utsman didatangi oleh seseorang yang tidak dikenal, kemudian menelentangkan Kiyai Utsman dengan sebilah pedang di leher kiyai. Peristiwa tragis ini kemudian disampaikan ke Kiyai Romli, dan beliau hanya menjawab: “Teruskan apa yang telah kamu amalkan, pasti orang itu tidak berani lagi mengulangi perbuatan yang sama”. Apa yang yang disampaikan oleh Kiyai Romli benar-benar terjadi, bukannya orang tersebut mengulangi lagi perbuatan yang sama, akan tetapi malah menjadi pengikut Kiyai Utsman yang setia. Beberapa Karomah yang Dimiliki Kiyai Utsman KH. Ahmad Asrori al-Ishaqi (salah satu putra Kiyai Utsman) menceritakan, ketika ayahanda berusia 13 tahun mempunyai kemampuan melihat Ka’bah secara nyata dari rumahnya Jatipurwo Surabaya. Beliau menganggap apa yang dilihatnya merupakan mimpi, tapi setelah berkali-kali matanya diusap, bahwa apa yang dia lihat bukan sekedar mimpi, akan tetapi benar-benar terjadi dan yang tampak hanyalah Ka’bah di Makkah. Kemudian Kiyai Utsman minta dibelikan kaca mata, beliau mengira bahwa matanya sudah rusak. Setelah dibelikan dan dipakai, ternyata hasilnya sama saja. Menurut Kiyai Asrori, itulah awal kasyaf yang dialami ayahandanya dan sejak saat itu Kiyai Utsman bisa melihat orang dengan segala kepribadiannya. Ada yang menyerupai serigala, ada yang seperti ayam dan kucing tergantung pembawaan nafsu masing-masing. Akan tetapi Kiyai Utsman tidak berani mengatakan terus terang, karena hal itu menyangkut kerahasiaan seseorang. Pada saat bermukim di lereng gunung dekat Ngawi, Kiyai Utsman pernah bermimpi ketemu KH. Hasyim Asy’ari Tebuireng dan berpamitan dengan Kiyai Utsman dengan mengatakan: “Saya duluan Utsman!”. Ternyata pada esok harinya beliau mendengar berita bahwa KH. Hasyim Asy’ari meninggal dunia (pulang kerahmatullah). Kiyai Muhammad Faqih Langitan Tuban pernah mengatakan bahwa Kiyai Zubeir Sarang Rembang bermimpi ketemu Rasulullah Saw. sedang menemui 2 orang laki-laki dan Rasulullah Saw. menyatakan kepada Kiyai Zubeir: “Keluargaku banyak tersebar di tanah Jawa diantaranya ialah Romli dan Utsman”. Salah seorang sopir Kiyai Utsman pernah mengatakan, dalam perjalanan dari Rejoso menuju Surabaya, tiba-tiba mobil yang dikendarai Kiyai Utsman bensinnya habis padahal seluruh uang sakunya telah diserahkan ke pondok. Kemudian Kiyai memerintahkan kepada sopirnya: “Begini saja, tangki mobil diisi dengan air teh tanpa gula secukupnya.” Karena sopir itu percaya dengan kyai, maka perintah itu dilaksanakan dengan sepenuh hati. Kemudian Kyai Utsman menanyakan: “Sudah kau isi bensin?” “Mobil kami isi dengan teh sesuai dawuh Kyai,” jawab sopir. Kyai Utsman pun segera mengajak pulang ke Surabaya. Dan atas izin Allah Swt. mobil itu bisa berjalan sampai ke Surabaya dengan bahan bakar teh. Demikian sepenggal biografi ulama besar KH. Utsman al-Ishaqi asal Jatipurwo Surabaya, yang kemudian nama beliau terpatri dalam nama Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah al-Utsmaniyah. Sepeninggal Kiyai Usman, tongkat estafet mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah al-Utsmaniyah diberikan kepada salah satu putranya yakni alm. KH. Ahmad Asrori al-Ishaqi. Pengalihan tugas itu berdasarkan wasiat Kiyai Utsman menjelang wafatnya.

Copy and WIN : http://ow.ly/
Biografi KH. Utsman Al-Ishaqi Surabaya Manaqib Romo KH. Utsman Al-Ishaqi Surabaya Bagi murid-murid atau pengikut Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah, figur Kiyai Utsman tidak asing lagi. Karena disamping beliau sebagai mursyidnya, juga penyusun silsilah thariqah yang paling banyak pengikutnya ini. Lahir di Surabaya pada bulan Jumadil Akhir 1334 H setelah bertapa selama 16 bulan dalam rahim ibu. Beliau memiliki silsilah keturunan hingga Rasulullah Saw. yang ke-37. Kiyai Utsman lebih banyak masa kecilnya dihabiskan untuk belajar dan mengaji ke beberapa guru di lingkungan beliau lahir. Tak heran jika pada usia 7 tahun Kiyai Utsman kecil telah 3 kali khatam al-Qur’an. Pesantren yang pertama kali disinggahi untuk menuntut ilmu ialah pesantren yang diasuh oleh Kiyai Khozin Siwalan Panji. Tidak lama kemudian beliau pindah ke pesantren yang diasuh Kiyai Munir Jambu Madura. Selanjutnya oleh kedua orang tuanya, Kiyai Utsman dipondokkan di pesantren Tebuireng Jombang asuhan KH. Hasyim Asy’ari dan akhirnya Kiyai Utsman memantapkan hatinya untuk memperdalam ilmunya di pesantren Rejoso Peterongan Jombang yang diasuh oleh Kiyai Romli at-Tamimi. Keterangan: Hadhratus Syekh KH. Muhammad Utsman Al Ishaqy ( Surabaya) bersama Habib Ali bin Husein al-Atthos Jakarta (Habib Ali Bungur) Mengenal Thariqah Perjalanan Kiyai Utsman dalam mencari ilmu diwarnai dengan berbagai lelaku. Tidak saja dalam hal makanan dan minuman saja yang harus dihindari. Akan tetapi juga dalam hal memperbanyak waktu untuk tidurpun juga harus dijalani. Dalam hal tirakat, Yai Utsman tidak pernah pulang ke rumah selama mondok, kecuali badannya sudah kurus benar. Sebab jika pulang dalam keadaan badan gemuk, dapat dipastikan kedua orang tuanya akan marah besar. Jika hal ini terjadi, berarti selama mondok dianggap aktifitasnya hanya makan dan minum saja, bukan mencari ilmu. Setelah cukup waktu nyantri di Kiyai Romli, Kiyai Utsman dibai’at oleh Kiyai Romli sebagi murid thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah dan sekaligus mendapat tugas dari kiyainya untuk menyusun silsilah thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah yang terhimpun dalam kitab Tsamrat al-Fikriyah. Babak kehidupan baru pun dimulai, setelah dirasa cukup dalam menimba ilmu dan telah menjadi salah satu murid thariqah, Kiyai Utsman pulang kampung untuk mengamalkan berbagai disiplin ilmu yang telah dimilikinya. Akan tetapi meski telah berada di lingkungan keluarga, Kiyai Utsman masih secara rutin hadir ke Kiyai Romli untuk mengikuti majelis khususi dengan cara berjalan kaki, kadang juga naik kendaraan dan itu dilakukan selama empat tahun. Selanjutnya atas saran KH. Hasyim Asy’ari, Kiyai Utsman beserta keluarga pindah sementara ke Peterongan agar lebih dekat dengan gurunya. Diba’iat Menjadi Mursyid Dalam pandangan Kiyai Romli, Kiyai Utsman selama mondok dan sebagai murid Thariqah, memiliki keistimewaan dan kekhususan yang tidak dimiliki oleh santri lainnya. Seperti ketika Kiyai Utsman berusia 13 tahun memiliki kemampuan melihat Ka’bah di Makkah tanpa harus datang ke Masjidil Haram. Juga kemampuannya melihat kepribadian seseorang menyerupai serigala, dan hewan sejenis tergantung nafsunya masing-masing. Termasuk selama mondok di Rejoso ini Kiyai Utsman sering dijumpai oleh Nabi Khidir As. Kiyai Romli berpendapat bahwa untuk meneruskan ajaran thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah, diperlukan estafet kepemimpinan thariqah. Dalam hal ini diperlukan seorang mursyid (guru) baru. Ini dimaksudkan agar ajaran thariqah tetap langgeng sampai kiamat nanti. Diantara sekian murid (santri) yang menurut pandangan Kiyai Romli memiliki kemampuan sebagai mursyid thariqah ialah Kiyai Utsman. Maka pada suatu hari tepatnya jam 2 dini hari Kiyai Utsman diminta menghadap Kiyai Romli untuk diangkat menjadi Mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah. Ketika Kiyai Romli melaksanakan perintah Allah dengan cara mengusapkan tangannya di atas kepala Kiyai Utsman, maka seketika itu pula Kiyai Utsman pingsan tidak sadarkan diri selama satu minggu, selama itu pula beliau tidak makan tidak minum tidak tidur tidak mandi tidak buang air besar maupun kecil juga tidak salat. Setelah resmi menjadi mursyid, Kiyai Utsman atas saran Kiyai Romli diminta tinggal di Desa Ngelunggih tidak jauh dari Rejoso. Tidak beberapa lama kemudian Kiyai Utsman pindah ke dekat gunung Lawu Ngawi untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Ketika ada peristiwa Madiun, banyak yang menyarankan agar Kiyai Utsman pulang kampung di Surabaya. Meski masyarakat dimana beliau tinggal banyak yang keberatan, bahkan jika Kiyai Utsman mau tetap tinggal di Ngawi, ada sebagian masyarakat berkenan menghibahkan tanah seluas 20 ha. Akan tetapi Kiyai Utsman tetap memilih kembali ke Surabaya. Istiqomah dalam Perilaku Kiyai Utsman sejak kecil hingga akan pulang ke rahmatullah selalu istiqomah dalam perilaku. Perbuatan serta ucapan-ucapannya selalu meniru Rasulullah Saw. Semua menyaksikan bahwa seluruh waktunya hanyalah untuk mengabdi kepada Allah. Maka pantaslah jika kemudian Kiyai Romli memilih Kiyai Utsman sebagai kholifahnya. Dalam hal ini Kiyai Romli pernah bermimpi bahwa di Surabaya terdapat sebuah pabrik besar yang terus-menerus berproduksi di bawah pimpinan Kiyai Utsman, itulah thariqah Qadiriyah wa Naqsabadiyah yang beliau asuh. Karena saking cintanya kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani Ra, Kiyai Utsman kemudian merintis penyelenggaraan manaqiban dengan cara membaca sejarah singkat Syekh Abdul Qadir al-Jailani Ra. seorang ulama besar asal Timur Tengah. Kegiatan yang merupakan rintisan ini ternyata mendapat sambutan yang cukup baik dari Kiyai Romli Rejoso dan akhirnya Kiyai Romli menyetujui dan meminta untuk diteruskan (dilanggengkan). Salah satu kegemaran Kiyai Utsman ialah melakukan ziarah ke wali-wali Allah baik yang masih hidup maupun yang sudah mati. Bahkan karena dekatnya hubungan beliau dengan para wali Allah, Kiyai Utsman menyemarakkan peringatan hari wafat mereka (haul), terutama wafatnya Syekh Abdul Qadir al-Jailani Ra. sehingga tiada terlewatkan setiap harinya di kota maupun di desa di Jawa Timur untuk senantiasa menggelar manaqib. Setelah Kiyai Utsman mendapat kepercayaan dari kiyai Romli sebagai kholifah (mursyid thariqah), beliau di rumah Jatipurwo menggelar acara manaqiban selama 4 tahun yang hanya diikuti oleh 7 orang. Di tengah-tengah memimpin istighotsah, Kiyai Utsman didatangi oleh seseorang yang tidak dikenal, kemudian menelentangkan Kiyai Utsman dengan sebilah pedang di leher kiyai. Peristiwa tragis ini kemudian disampaikan ke Kiyai Romli, dan beliau hanya menjawab: “Teruskan apa yang telah kamu amalkan, pasti orang itu tidak berani lagi mengulangi perbuatan yang sama”. Apa yang yang disampaikan oleh Kiyai Romli benar-benar terjadi, bukannya orang tersebut mengulangi lagi perbuatan yang sama, akan tetapi malah menjadi pengikut Kiyai Utsman yang setia. Beberapa Karomah yang Dimiliki Kiyai Utsman KH. Ahmad Asrori al-Ishaqi (salah satu putra Kiyai Utsman) menceritakan, ketika ayahanda berusia 13 tahun mempunyai kemampuan melihat Ka’bah secara nyata dari rumahnya Jatipurwo Surabaya. Beliau menganggap apa yang dilihatnya merupakan mimpi, tapi setelah berkali-kali matanya diusap, bahwa apa yang dia lihat bukan sekedar mimpi, akan tetapi benar-benar terjadi dan yang tampak hanyalah Ka’bah di Makkah. Kemudian Kiyai Utsman minta dibelikan kaca mata, beliau mengira bahwa matanya sudah rusak. Setelah dibelikan dan dipakai, ternyata hasilnya sama saja. Menurut Kiyai Asrori, itulah awal kasyaf yang dialami ayahandanya dan sejak saat itu Kiyai Utsman bisa melihat orang dengan segala kepribadiannya. Ada yang menyerupai serigala, ada yang seperti ayam dan kucing tergantung pembawaan nafsu masing-masing. Akan tetapi Kiyai Utsman tidak berani mengatakan terus terang, karena hal itu menyangkut kerahasiaan seseorang. Pada saat bermukim di lereng gunung dekat Ngawi, Kiyai Utsman pernah bermimpi ketemu KH. Hasyim Asy’ari Tebuireng dan berpamitan dengan Kiyai Utsman dengan mengatakan: “Saya duluan Utsman!”. Ternyata pada esok harinya beliau mendengar berita bahwa KH. Hasyim Asy’ari meninggal dunia (pulang kerahmatullah). Kiyai Muhammad Faqih Langitan Tuban pernah mengatakan bahwa Kiyai Zubeir Sarang Rembang bermimpi ketemu Rasulullah Saw. sedang menemui 2 orang laki-laki dan Rasulullah Saw. menyatakan kepada Kiyai Zubeir: “Keluargaku banyak tersebar di tanah Jawa diantaranya ialah Romli dan Utsman”. Salah seorang sopir Kiyai Utsman pernah mengatakan, dalam perjalanan dari Rejoso menuju Surabaya, tiba-tiba mobil yang dikendarai Kiyai Utsman bensinnya habis padahal seluruh uang sakunya telah diserahkan ke pondok. Kemudian Kiyai memerintahkan kepada sopirnya: “Begini saja, tangki mobil diisi dengan air teh tanpa gula secukupnya.” Karena sopir itu percaya dengan kyai, maka perintah itu dilaksanakan dengan sepenuh hati. Kemudian Kyai Utsman menanyakan: “Sudah kau isi bensin?” “Mobil kami isi dengan teh sesuai dawuh Kyai,” jawab sopir. Kyai Utsman pun segera mengajak pulang ke Surabaya. Dan atas izin Allah Swt. mobil itu bisa berjalan sampai ke Surabaya dengan bahan bakar teh. Demikian sepenggal biografi ulama besar KH. Utsman al-Ishaqi asal Jatipurwo Surabaya, yang kemudian nama beliau terpatri dalam nama Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah al-Utsmaniyah. Sepeninggal Kiyai Usman, tongkat estafet mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah al-Utsmaniyah diberikan kepada salah satu putranya yakni alm. KH. Ahmad Asrori al-Ishaqi. Pengalihan tugas itu berdasarkan wasiat Kiyai Utsman menjelang wafatnya.

Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ
Biografi KH. Utsman Al-Ishaqi Surabaya Manaqib Romo KH. Utsman Al-Ishaqi Surabaya Bagi murid-murid atau pengikut Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah, figur Kiyai Utsman tidak asing lagi. Karena disamping beliau sebagai mursyidnya, juga penyusun silsilah thariqah yang paling banyak pengikutnya ini. Lahir di Surabaya pada bulan Jumadil Akhir 1334 H setelah bertapa selama 16 bulan dalam rahim ibu. Beliau memiliki silsilah keturunan hingga Rasulullah Saw. yang ke-37. Kiyai Utsman lebih banyak masa kecilnya dihabiskan untuk belajar dan mengaji ke beberapa guru di lingkungan beliau lahir. Tak heran jika pada usia 7 tahun Kiyai Utsman kecil telah 3 kali khatam al-Qur’an. Pesantren yang pertama kali disinggahi untuk menuntut ilmu ialah pesantren yang diasuh oleh Kiyai Khozin Siwalan Panji. Tidak lama kemudian beliau pindah ke pesantren yang diasuh Kiyai Munir Jambu Madura. Selanjutnya oleh kedua orang tuanya, Kiyai Utsman dipondokkan di pesantren Tebuireng Jombang asuhan KH. Hasyim Asy’ari dan akhirnya Kiyai Utsman memantapkan hatinya untuk memperdalam ilmunya di pesantren Rejoso Peterongan Jombang yang diasuh oleh Kiyai Romli at-Tamimi. Keterangan: Hadhratus Syekh KH. Muhammad Utsman Al Ishaqy ( Surabaya) bersama Habib Ali bin Husein al-Atthos Jakarta (Habib Ali Bungur) Mengenal Thariqah Perjalanan Kiyai Utsman dalam mencari ilmu diwarnai dengan berbagai lelaku. Tidak saja dalam hal makanan dan minuman saja yang harus dihindari. Akan tetapi juga dalam hal memperbanyak waktu untuk tidurpun juga harus dijalani. Dalam hal tirakat, Yai Utsman tidak pernah pulang ke rumah selama mondok, kecuali badannya sudah kurus benar. Sebab jika pulang dalam keadaan badan gemuk, dapat dipastikan kedua orang tuanya akan marah besar. Jika hal ini terjadi, berarti selama mondok dianggap aktifitasnya hanya makan dan minum saja, bukan mencari ilmu. Setelah cukup waktu nyantri di Kiyai Romli, Kiyai Utsman dibai’at oleh Kiyai Romli sebagi murid thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah dan sekaligus mendapat tugas dari kiyainya untuk menyusun silsilah thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah yang terhimpun dalam kitab Tsamrat al-Fikriyah. Babak kehidupan baru pun dimulai, setelah dirasa cukup dalam menimba ilmu dan telah menjadi salah satu murid thariqah, Kiyai Utsman pulang kampung untuk mengamalkan berbagai disiplin ilmu yang telah dimilikinya. Akan tetapi meski telah berada di lingkungan keluarga, Kiyai Utsman masih secara rutin hadir ke Kiyai Romli untuk mengikuti majelis khususi dengan cara berjalan kaki, kadang juga naik kendaraan dan itu dilakukan selama empat tahun. Selanjutnya atas saran KH. Hasyim Asy’ari, Kiyai Utsman beserta keluarga pindah sementara ke Peterongan agar lebih dekat dengan gurunya. Diba’iat Menjadi Mursyid Dalam pandangan Kiyai Romli, Kiyai Utsman selama mondok dan sebagai murid Thariqah, memiliki keistimewaan dan kekhususan yang tidak dimiliki oleh santri lainnya. Seperti ketika Kiyai Utsman berusia 13 tahun memiliki kemampuan melihat Ka’bah di Makkah tanpa harus datang ke Masjidil Haram. Juga kemampuannya melihat kepribadian seseorang menyerupai serigala, dan hewan sejenis tergantung nafsunya masing-masing. Termasuk selama mondok di Rejoso ini Kiyai Utsman sering dijumpai oleh Nabi Khidir As. Kiyai Romli berpendapat bahwa untuk meneruskan ajaran thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah, diperlukan estafet kepemimpinan thariqah. Dalam hal ini diperlukan seorang mursyid (guru) baru. Ini dimaksudkan agar ajaran thariqah tetap langgeng sampai kiamat nanti. Diantara sekian murid (santri) yang menurut pandangan Kiyai Romli memiliki kemampuan sebagai mursyid thariqah ialah Kiyai Utsman. Maka pada suatu hari tepatnya jam 2 dini hari Kiyai Utsman diminta menghadap Kiyai Romli untuk diangkat menjadi Mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah. Ketika Kiyai Romli melaksanakan perintah Allah dengan cara mengusapkan tangannya di atas kepala Kiyai Utsman, maka seketika itu pula Kiyai Utsman pingsan tidak sadarkan diri selama satu minggu, selama itu pula beliau tidak makan tidak minum tidak tidur tidak mandi tidak buang air besar maupun kecil juga tidak salat. Setelah resmi menjadi mursyid, Kiyai Utsman atas saran Kiyai Romli diminta tinggal di Desa Ngelunggih tidak jauh dari Rejoso. Tidak beberapa lama kemudian Kiyai Utsman pindah ke dekat gunung Lawu Ngawi untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Ketika ada peristiwa Madiun, banyak yang menyarankan agar Kiyai Utsman pulang kampung di Surabaya. Meski masyarakat dimana beliau tinggal banyak yang keberatan, bahkan jika Kiyai Utsman mau tetap tinggal di Ngawi, ada sebagian masyarakat berkenan menghibahkan tanah seluas 20 ha. Akan tetapi Kiyai Utsman tetap memilih kembali ke Surabaya. Istiqomah dalam Perilaku Kiyai Utsman sejak kecil hingga akan pulang ke rahmatullah selalu istiqomah dalam perilaku. Perbuatan serta ucapan-ucapannya selalu meniru Rasulullah Saw. Semua menyaksikan bahwa seluruh waktunya hanyalah untuk mengabdi kepada Allah. Maka pantaslah jika kemudian Kiyai Romli memilih Kiyai Utsman sebagai kholifahnya. Dalam hal ini Kiyai Romli pernah bermimpi bahwa di Surabaya terdapat sebuah pabrik besar yang terus-menerus berproduksi di bawah pimpinan Kiyai Utsman, itulah thariqah Qadiriyah wa Naqsabadiyah yang beliau asuh. Karena saking cintanya kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani Ra, Kiyai Utsman kemudian merintis penyelenggaraan manaqiban dengan cara membaca sejarah singkat Syekh Abdul Qadir al-Jailani Ra. seorang ulama besar asal Timur Tengah. Kegiatan yang merupakan rintisan ini ternyata mendapat sambutan yang cukup baik dari Kiyai Romli Rejoso dan akhirnya Kiyai Romli menyetujui dan meminta untuk diteruskan (dilanggengkan). Salah satu kegemaran Kiyai Utsman ialah melakukan ziarah ke wali-wali Allah baik yang masih hidup maupun yang sudah mati. Bahkan karena dekatnya hubungan beliau dengan para wali Allah, Kiyai Utsman menyemarakkan peringatan hari wafat mereka (haul), terutama wafatnya Syekh Abdul Qadir al-Jailani Ra. sehingga tiada terlewatkan setiap harinya di kota maupun di desa di Jawa Timur untuk senantiasa menggelar manaqib. Setelah Kiyai Utsman mendapat kepercayaan dari kiyai Romli sebagai kholifah (mursyid thariqah), beliau di rumah Jatipurwo menggelar acara manaqiban selama 4 tahun yang hanya diikuti oleh 7 orang. Di tengah-tengah memimpin istighotsah, Kiyai Utsman didatangi oleh seseorang yang tidak dikenal, kemudian menelentangkan Kiyai Utsman dengan sebilah pedang di leher kiyai. Peristiwa tragis ini kemudian disampaikan ke Kiyai Romli, dan beliau hanya menjawab: “Teruskan apa yang telah kamu amalkan, pasti orang itu tidak berani lagi mengulangi perbuatan yang sama”. Apa yang yang disampaikan oleh Kiyai Romli benar-benar terjadi, bukannya orang tersebut mengulangi lagi perbuatan yang sama, akan tetapi malah menjadi pengikut Kiyai Utsman yang setia. Beberapa Karomah yang Dimiliki Kiyai Utsman KH. Ahmad Asrori al-Ishaqi (salah satu putra Kiyai Utsman) menceritakan, ketika ayahanda berusia 13 tahun mempunyai kemampuan melihat Ka’bah secara nyata dari rumahnya Jatipurwo Surabaya. Beliau menganggap apa yang dilihatnya merupakan mimpi, tapi setelah berkali-kali matanya diusap, bahwa apa yang dia lihat bukan sekedar mimpi, akan tetapi benar-benar terjadi dan yang tampak hanyalah Ka’bah di Makkah. Kemudian Kiyai Utsman minta dibelikan kaca mata, beliau mengira bahwa matanya sudah rusak. Setelah dibelikan dan dipakai, ternyata hasilnya sama saja. Menurut Kiyai Asrori, itulah awal kasyaf yang dialami ayahandanya dan sejak saat itu Kiyai Utsman bisa melihat orang dengan segala kepribadiannya. Ada yang menyerupai serigala, ada yang seperti ayam dan kucing tergantung pembawaan nafsu masing-masing. Akan tetapi Kiyai Utsman tidak berani mengatakan terus terang, karena hal itu menyangkut kerahasiaan seseorang. Pada saat bermukim di lereng gunung dekat Ngawi, Kiyai Utsman pernah bermimpi ketemu KH. Hasyim Asy’ari Tebuireng dan berpamitan dengan Kiyai Utsman dengan mengatakan: “Saya duluan Utsman!”. Ternyata pada esok harinya beliau mendengar berita bahwa KH. Hasyim Asy’ari meninggal dunia (pulang kerahmatullah). Kiyai Muhammad Faqih Langitan Tuban pernah mengatakan bahwa Kiyai Zubeir Sarang Rembang bermimpi ketemu Rasulullah Saw. sedang menemui 2 orang laki-laki dan Rasulullah Saw. menyatakan kepada Kiyai Zubeir: “Keluargaku banyak tersebar di tanah Jawa diantaranya ialah Romli dan Utsman”. Salah seorang sopir Kiyai Utsman pernah mengatakan, dalam perjalanan dari Rejoso menuju Surabaya, tiba-tiba mobil yang dikendarai Kiyai Utsman bensinnya habis padahal seluruh uang sakunya telah diserahkan ke pondok. Kemudian Kiyai memerintahkan kepada sopirnya: “Begini saja, tangki mobil diisi dengan air teh tanpa gula secukupnya.” Karena sopir itu percaya dengan kyai, maka perintah itu dilaksanakan dengan sepenuh hati. Kemudian Kyai Utsman menanyakan: “Sudah kau isi bensin?” “Mobil kami isi dengan teh sesuai dawuh Kyai,” jawab sopir. Kyai Utsman pun segera mengajak pulang ke Surabaya. Dan atas izin Allah Swt. mobil itu bisa berjalan sampai ke Surabaya dengan bahan bakar teh. Demikian sepenggal biografi ulama besar KH. Utsman al-Ishaqi asal Jatipurwo Surabaya, yang kemudian nama beliau terpatri dalam nama Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah al-Utsmaniyah. Sepeninggal Kiyai Usman, tongkat estafet mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah al-Utsmaniyah diberikan kepada salah satu putranya yakni alm. KH. Ahmad Asrori al-Ishaqi. Pengalihan tugas itu berdasarkan wasiat Kiyai Utsman menjelang wafatnya.

Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar